Opini

Membentuk Karakter Anak Lewat Seni dan Budaya Islami

Karakter Anak

Oleh: Riana Nur’aini (Ibu Rumah Tangga dan Guru SD Islam Al Azhar 20 Cibubur, Jakarta Timur)

Pandemi yang berlangsung lebih dari dua tahun membuat beberapa lahan pekerjaan ditutup dan  para pekerja dirumahkan, tidak terkecuali  di bidang pendidikan. Banyak sekolah yang muridnya semakin berkurang.

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia ini menyebabkan kepanikan luar biasa bagi seluruh masyarakat.

Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah (BDR) masa darurat penyebaran Covid-19.

Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.

Belajar Dari Rumah (BDR) menggunakan internet sekaligus teknologi multimedia yang dianggap dapat mengubah cara penyampaian ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi alternatif pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas.

Pelaksanaan pembelajaran ini membutuhkan adanya fasilitas sebagai penunjang, yaitu seperti smartphone, laptop, tablet yang dapat digunakan untuk mengakses informasi dimanapun dan kapan pun.

Belajar Dari Rumah (BDR) harus mendapatkan dukungan dari seluruh warga di rumah karena ini merupakan garda terdepan bagi anak-anak untuk dapat melanjutkan pendidikan di masa yang akan datang meskipun dengan situasi yang berbeda.

Semangat anak dalam belajar harus selalu kita dukung dengan berbagai fasilitas yang harus disediakan guna mendukung kenyamanan belajar.

Baca Juga: Metode Pembelajaran, Sebuah Asumsi yang Memadai

Namun tidak semua mendapatkan fasilitas yang sama, kembali kepada keadaan ekonomi masing-masing keluarga.

Oleh karena itu kita yang masih diberikan kepercayaan dan amanah dari Allah SWT jangan lupa harus terus bersyukur dalam setiap keadaan karena sampai sekarang kita masih dapat menerima pendidikan dengan baik. Alhamdulillah.

Secara bertahap selama pandemi pembelajaran offline dimulai dengan menggunakan sistem Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) yaitu 50 % di rumah dan 50 % di sekolah.

Waktu di rumah dan sekolah lebih lama di rumah bagi anak dalam mendapatkan pendidikan karakter dan di sini yang memiliki peran terbesar adalah orang tua di rumah. Sehingga perlu adanya kerjasama antara anak dan orang tua juga guru.

Di rumah, orang tua harus menjadi tempat penanaman karakter yang kuat. Orang tua harus bisa memberikan rasa aman terhadap anak-anak agar mereka merasa dekat dan menjadikan orang tuanya sebagai madrasah yang pertama dan utama.

Selama Belajar Dari Rumah (BDR) di kegiatan zoom terlihat ada beberapa anak yang kurang fokus dalam memperhatikan guru ketika menjelaskan.

Pertama, yang terjadi adalah anak belum dapat menghargai gurunya ketika diberikan penjelasan pelajaran di ruang zoom. Kedua, ketika zoom berlangsung ada anak yang masih belum menggunakan seragam dengan sempurna. Ketiga, dalam melakukan kegiatan di zoom ada anak yang masih meminta tolong kepada orang tua tetapi belum menggunakan bahasa yang sopan dan santun.

Masih banyak lagi hal yang perlu diperhatikan dalam menata dan membentuk kembali karakter anak yang sudah lama sekolah online. Di antaranya sekolah kami mengadakan beberapa kegiatan terkait dengan penanaman karakter melalui Kreasi Seni dan Budaya Islami.

Ketika sekolah sudah memulai offline, masih ada kebiasaan-kebiasaan kurang baik terbawa ke sekolah. Ini akan menjadi tantangan seorang guru untuk membuat perencanaan terkait dengan karakter anak.

Pendidikan karakter bukan tentang pendidikan pengetahuan  apa itu karakter dan bagaimana caranya pendidikan karakter. Karena ini merupakan upaya nyata menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan kewenangan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.

Implementasi pendidikan karakter yang diselenggarakan di sekolah pada masa pandemi merupakan langkah yang tepat untuk mengembalikan sikap dan tingkah laku anak. Namun keberhasilan latar belakang keluarga anak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar.

Yang sekolah lakukan sebagai upaya dalam menanamkan pendidikan karakter kepada murid di antaranya yaitu: mengajarkan disiplin dan tanggung jawab di kegiatan pembelajaran (masuk ke sekolah tepat waktu, merapikan barang-barang pribadi jangan sampai ada yang tertinggal), jujur dalam mengerjakan tugas (melakukan tugas kelompok ketika pembelajaran berlangsung atau mengisi latihan-latihan soal), menanamkan pola hidup bersih (sering mencuci tangan dan mengganti masker jika sudah tidak bersih).

Guru membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) diproses pembelajaran. Ini juga perlu adanya kerja sama yang baik dengan orang tua dalam memantau kegiatan anak di rumah juga di sekolah.

Tentu nya setiap usaha yang dilakukan oleh para pendidik  pasti memiliki nilai positif dan negatif dalam pembelajaran online atau offline. Di sini peran guru sangatlah penting dalam mengembalikan dan membentuk karakter murid setelah lama sekolah online.

Guru harus terus mengontrol setiap aktifitas murid selama dalam pembelajaran baik itu online atau offline. Hal ini sebagai bentuk penanaman karakter sopan santun dalam bertindak dan tanggung jawab atas semua yang dilakukan oleh murid.

Dalam memperbaiki karakter yang sudah pernah ada sekolah kami mengadakan Kreasi Seni dan Budaya Islami yang dikemas dalam lomba-lomba guna membentuk kembali karakter setelah lama sekolah online di antaranya: adzan, da’i cilik, menghafal surat pendek, do’a harian, mewarnai, senam.

Kegiatan di kelas yang kami lakukan ketika datang ke sekolah murid-murid masuk ke dalam kelas lalu menyimpan tas pada loker masing-masing. Setiap siswa kemudian langsung membawa Juz ‘Amma duduk rapi dan sudah dalam keadaan berwudhu memulai muroja’ah juz 30 lalu bertadarus bersama-sama.

Kegiatan saling memberi salam sesama teman, dengan guru, karyawan dan seluruh warga sekolah, upacara juga kami terapkan. Pelajar pun harus ikrar, shalat berjamaah, saling menolong juga menghormati ini adalah karakter yang dilakukan sekolah kami setiap hari.

Dalam membangun kembali karakter, pendidikan agama memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia terutama anak didik. Karakter ini yang sudah mulai tertanam  semenjak sekolah offline secara perlahan namun pasti.

Alhamdulillah sekolah kami memberikan banyak prestasi yang luar biasa dari murid-murid juga pendidiknya. Sekolah kami memberikan banyak fasilitas media pembelajaran seperti: Google Class Room, Zoom, Google Meet, Whatsapp. Semua terbentuk karena adanya kerjasama antara Yayasan, guru, orang tua dan seluruh warga sekolah.

Oleh karena itu kita wajib ingat akan apa yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi larangan-Nya. Dalam kondisi apapun, pendidikan ada di tangan kita bersama untuk mewujudkan pembangunan Pendidikan Nasional.

Dalam membentuk karakter ini adalah sebuah cara yang unik untuk membuka lembaran hari. Salah satunya adalah merencanakan kebaikan untuk orang lain sehingga menjadikan murid-murid yang membanggakan.

“Ilmu itu bukan apa yang dihafal tapi apa yang dimanfaatkan.“ (Imam Syafi’i)

Sumber: republika

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
%d bloggers like this: