Opini

Metode Pembelajaran, Sebuah Asumsi yang Memadai

Karakter Anak

Oleh: Fathi Ridwan Hidayatullah *)

Penerapan metode pembelajaran menjadi hal ikhwal Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung di kelas optimal. Untuk itu, seorang pendidik diwajibkan mampu memilih dan memilah metode pembelajaran yang tepat agar efektivitas ketepatan belajar tidak klise dan malah menjadi boomerang bosan bagi peserta didik.

Di sisi lain, dunia pendidikan tampak semarak menggencarkan Kurikulum Merdeka yang dirasa lebih fleksibel dan tampak konkrit dipahami.

Tentu saja warta tersebut belum banyak merata penyerapannya ke berbagai daerah. Masih jauh panggang dari api. Tapi seorang pendidik dituntut untuk menjadi piawai dalam segala hal karena memang merupakan sumber bertanya dan berbagi bagi peserta didik.

Senada dengan paparan di atas, metode pembelajaran yang dirasa memadai dan banyak fakta bahwa metode pembelajaran ini menjadi juara bilamana diterapkan dengan beragam mata pelajaran di sekolah, yaitu Project Based Learning. Penulis mengkonkritkan penjelasan metode tersebut dari beragam sumber yang sudah disarikan.

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas peserta didik untuk memecahkan masalah dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman nyata.

PjBL dilakukan secara sistematik yang mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran sikap, pengetahuan dan keterampilan melalui investigasi dalam perancangan produk.

PjBL merupakan model pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks, Kemdiknas (2013).

Fokus pembelajaran terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu disiplin ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, member kesepatan siswa bekerja secara otonom dalam mengontruksi pengetahuan mereka sendiri, dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata.

Pada PjBL, peserta didik terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah yang ditugaskan oleh guru dalam bentuk suatu proyek. Peserta didik aktif mengelola pembelajarannya dengan bekerja secara nyata yang menghasilkan produk riil.

Baca Juga: Siswa SMP Negeri 1 Sinjai Implementasikan Kurikulum Merdeka

PjBL dapat mereduksi kompetisi di dalam kelas dan mengarahkan peserta didik lebih kolaboratif daripada bekerja sendiri-sendiri. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.

Manfaat Pembelajaran Project Based Learning

Didalam Implementasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kemdikbud dijelaskan bahwa manfaat pembelajaran berbasis proyek (PjBL) diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran
  • Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah.
  • Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah yang kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa.
  • Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas.
  • Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PBP yang bersifat kelompok.

Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning

  • MacDonell menjelaskan bahwa model pembelajara ini memiliki tujuh karakteristik sebagai berikut:
  • Melibatkan secara langsung siswa dalam pembelajaran
  • Menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata
  • Dilaksanakan dengan berbasis penelitian
  • Melibatkan berbagai sumber belajar
  • Bersatu dengan pengetahuan dan keterampilan
  • Dilakukan dari waktu ke waktu
  • Diakhiri sebuah produk tertentu

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Project Based Learning

Menurut Moursund (dalam Sutirman 2013:5) keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:

Meningkatkan motivasi

Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih menyenangkandaripada komponen kurikulum yang lain.

Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah.

Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan proyek-proyekyang kompleks.

Meningkatkan kecakapan kolaboratif.

Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan.

Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek.

Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif.

Meningkatkan keterampilan mengelola sumber.

Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran berbais proyek (PjBL) yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

Dalam penerapan problem base learning dibutuhkan persiapan yang matang, karena dibutuhkannya masalah yang kompleks untuk dijadikan pembelajaran.

Sebagai contoh pembelajaran problem base learning di mata pelajaran bahasa Indonesia. Guru memberikan sebuah artikel dan sebuah tulisan media masa yang menyampaikan bahwa pantaskah karya Sastra Indonesia menjadi dan cocok dijadikan rujukan bagi dunia Internasional, lalu kelas di bagi menjadi beberapa kelompok.

Siswa diminta untuk membuat dan mencari mengapa karya Sastra Indonesia menjadi dan cocok dijadikan rujukan bagi dunia Internasional, pada pembelajaran ini siswa diminta untuk membuat teks argumentasi yang menggunakan data-data yang dicari oleh siswa secara baik dan benar.

Guru berfungsi sebagai fasilitator pada pembelajaran ini dan memimpin jalannya diskusi. Siswa melakukan diskusi dengan mengungkapkan argumentasi-argumentasi yang dibuatnya. Sehingga menghasilkan sebuah produk yaitu teks-teks argumentasi tentang seberapa pantaskah karya Sastra Indonesia menjadi dan cocok dijadikan rujukan bagi dunia Internasional. [*]

*)  Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Sumber: bantennews

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
%d bloggers like this: